Pada tanggal 16-18 April aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di Denpasar. Pelatihan ini diselenggarakan kerja sama antara Balai Bahasa Denpasar dan APBIPA (Asosiasi Pengajar BIPA Bali). Latar belakang pengadaan kegiatan ini adalah pengembangan BIPA di Indonesia, dan lebih khusus lagi mencetak dan menelurkan guru BIPA yang mumpuni yang akan memahami metodologi, teknik, dan pendekatan pengajaran BIPA. Peserta yang mengikuti pelatihan dari kantorku hanya dua orang, mengingat teman-teman yang lebih dulu tergabung dalam tim BIPA Pusat Bahasa telah mengikuti pelatihan sejenis di Pusat Bahasa pada awal tahun 2007.
Titik awal perjalanan di mulai dari Pusat Bahasa 15 April 16.00. Setelah diantar teman ke terminal Rawamangun aku naik bus Damri jurusan Rawamangun-Bandara bersama teman peserta yang lain. Sebenarnya jadwal keberangkatan pesawat pukul 20.00 WIB. Akan tetapi, aku memperkirakan bahwa jalur ke bandara akan macet di Jembatan Tiga akibat terjadinya kebakaran beberapa saat yang lalu. Bus Damri baru berangkat pukul 16.15 dengan membawa beberapa orang saja. Aku melihat hampir sebagian bangku yang tersedia kosong. Aku coba menghitung jumlah penumpangya tidak lebih dari hitungan jari. Pengemudi bus ternyata tidak mengendarai armadanya melalui jalur biasa. Ternyata apa yang aku perkirakan benar. Untuk menghindari kemacetan bus keluar tol kembali dan melewati Penjaringan dan masuk tol kembali melewati Kapuk sampai Bandara Ngurah Rai. Kami tiba di bandara pukul 17.50 dan kami langsung melapor ke check counter Garuda Indonesia untuk membayar pajak bandara sebesar Rp30.000,00. Ternyata aku terlalu awal tiba di bandara, sehingga aku harus menunggu pesawat selama dua jam. Karena maghrib telah tiba, aku salat maghrib-isya di musala. Untuk mengisi waktu tunggu aku membaca koran koran olah raga yang tersedia di bandara.
Setelah menunggu hampir dua jam, kru pesawat mengumumkan kepada penumpang untuk segera naik pesawat. Pesawat yang aku tumpangi adalah pesawat ke Australia dan transit di Denpasar. Tempat duduk terlihat penuh. Hanya terlihat beberapa kursi saja yang kosong. Tipe pesawat yang aku tumpangi adalah Airbus 330 dengan kapasitas hampir 300 orang. Kami mendapat satu kali sajian untuk makan. Menu kali ini adalah mie ayam. Waktu tempuh Jakarta-Denpasar kurang lebih dua jam. Aku tiba di Bandara Ngurah Rai pukul 21.45 WITA. Di Bandara aku berpisah dengan teman dengan mengikuti jemputan masing-masing. Aku sendiri di jemput kawan lama ketika aku tinggal di Kuta dahulu, dan temanku pelatihan dijemput oleh saudaranya. Teman yang menjemputku adalah pengemudi sekaligus pemilik taksi. Jadi, dia cukup leluasa untuk mengemudikan taksinya mengingat dia tidak harus memberikan setoran kepada orang lain.
Awalnya aku berpesan kepada temanku untuk mencarikan penginapan yang tidak jauh dari tempat pelatihanku. Kami asik bercakap di rumahnya sampai larut, sehingga aku memutuskan untuk menginap di rumahnya di daerah Sesetan, Denpasar. Pertimbangannya adalah aku juga tidak merasa nyaman jika harus keluar larut malam dan merepotkannya untuk mengantar aku ke penginapan. Malam pertama aku habiskan di rumah temanku.
Kegiatan pagi beikutnya, kuawali dengan mandi dan salat subuh. Setelah sarapan aku diantar temanku ke tempat pelatihan di Balai Bahasa Denpasar, jalan Trengguli 20, Tembau, Denpasar. Aku bersama temanku mencoba mencari penginapan di daerah Gatot Subroto Timur. Tetapi sampai daerah Toh Pati aku tidak menemukan penginapan dan akhirnya kami memutuskan balik arah menuju Gatot Subroto Barat. Akhirnya aku tentukan satu penginapan di jalan Nangka Selatan dan aku langsung membuat pembukuan. Setelah menurunkan barang bawaan di penginapan, aku langsung ke tempat pelatihan untuk mengikuti pembukaan pelatihan.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Balai Denpasar dan dihadiri oleh perwakilan APBIPA Bali. Pembukaan tidak berlangsung lama. Dalam sambutannya Kepala Balai Denpasar menegaskan bahwa salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk melengkapi supaya pengajaran BIPA semakin sistematis dan terlembaga. Pengajaran BIPA hendaknya dilakukan dengan metode yang benar sehingga hasilnya benar. Selain itu pembinaan bahasa Indonesia tidak sekadar berbahasa yang baik, tetapi juga memperbanyak penutur bahasa yang berkualitas, tambahnya. Kepala Balai juga mengetengahkan sebuah contoh tentang pentingnya pemahaman budaya dalam pengajaran BIPA. Pembukaan pelatihan ini ditutup pukul 10.00 WITA.
Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari, diikuti oleh peserta dari berbagai berprofesi. Kebanyakan peserta adalah guru bahasa selebihnya guru non bahasa, dosen, karyawan Pusat Bahasa dan Balai Bahasa Denpasar. Materi pelatihan ini adalah metodologi, teknik, dan pendekatan pengajaran BIPA. Keterampilan pengajaran bahasa yang diajarkan adalah pengajaran keterampilan reseptif yaitu keterampilan menyimak dan membaca, dan keterampilan produktif yaitu keterampilan menulis dan berbicara. Materi tambahan atau bagian dari kedua keterampilan tersebut adalah materi kosa kata, tata bahasa, dan pengajaran terpadu dalam pemelajaran BIPA.
Setelah mengamati proses pelatihan ini, awalnya memang tujuan dari para peserta adalah mencari sertifikat untuk mendukung profesi guru. Tetapi setelah mengikuti pelatihan secara keseluruhan para peserta merasa perlu metodologi yang diajarkan. Metode pengajaran BIPA dirasa cukup menarik jika diadopsi dalam pengajaran bahasa Indonesia, Inggris, dan Bali. Yang lebih menarik dalam pelatihan ini adalah fasilitatornya ternyata hanya satu orang. Anehnya peserta tidak merasa jenuh dengan pelatihan ini karena fasilitator sangat mumpuni dalam menyampaikan materinya. Para peserta dilibatkan dalam penyampaian materi berupa diskusi dan mengerjakan latihan secara nyaman dan tidak merasa terbebani melainkan mengikuti permainan-permainan yang sejatinya di dalamya terdapat pengajaran bahasa terutama pengajaran BIPA.
Kegiatan ini ditutup tanggal 18 April 2008 pukul 16.00 WITA oleh Kepala Balai Denpasar dengan melakukan diskusi sebelumnya dengan para peserta dan fasilitator. Kesan peserta dalam mengikuti kegiatan ini cukup puas dan merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Pengalaman unik dan penting bagiku pada pelatihan ini adalah aku mendapat oleh-oleh alergi karena aku lupa makan sate lilit pada sebuah makan siang. Hari kedua aku mendapat menu nasi kotak yang di dalamnya terdapat sate lilit dan sambal terasi. Mungkin kedua bahan tersebut yang membuat kulitku mengeluarkan bintik-bintik merah di sekujur tubuhku. Aku benar-benar lupa saat itu. Sesampai di Jakarta aku harus ke dokter untuk mengurus oleh-olehku dari Bali yaitu alergi yang menyerang kulitku. Aku sebenarnya selama ini tidak pernah mempunyai alergi terhadap makanan, tetapi setelah aku mengikuti diagnostik alergi biotensor aku ternyata alergi terhadap beberapa makanan, debu, kacang dan kutu. Aneh.
Denpasar adalah tempat pertama aku mendapat pengalaman bekerja. Sempat aku di Bali selama hampir empat tahun, berkecimpung sesaat dalam bidang pendidikan, dan selebihnya bergelut dengan dunia pariwisata. Jadi malam-malam selama kegiatan ini berlangsung aku masih bisa bertemu dengan beberapa teman lama ketika aku tinggal di Denpasar. Aku sengaja tidak berkunjung ke tempat-tempat ramai di Bali, dan aku hanya ingin bertemu dengan teman atau rekan kerja ketika aku tinggal di Denpasar.
Jadwal kepulanganku adalah Denpasar-Jogja, Sabtu 19 April 2008 12.50 WITA—13.00 WIB. Sengaja aku sempatkan untuk mampir ke Salatiga, kampung halamanku. Sebelum menuju Bandara Ngurah Rai aku sempatkan membeli oleh-oleh sekadarnya untuk teman dan keluarga di Jakarta dan Salatiga. Perjalan Denpasar-Bandara Ngurah Rai tetap diantar oleh teman. Pesawat yang membawaku ke Jogja kali ini adalah Garuda Boeing 737-400. Penerbangan sesuai jadwal dan aku mendarat di bandara Adi Sucipto pukul 13.00 WIB. Setelah solat qasar lohor-asar aku teruskan perjalanan dengan bus Jogja-Solo dan aku turun di Sukoharjo. Aku turun di sini dengan tujuan aku dapat mengajak adikku pulang kampung bersama. Maklum jarang dapat berkumpul selain lebaran dan libur panjang.
Aku hanya menginap semalam di rumah. Minggu sore aku lanjutkan kepulanganku ke Jakarta dengan armada bus. Perjalanan kali ini ternyata tidak sesuai jadwal. Aku meninggalkan kota Salatiga kurang lebih pukul lima. Akan tetapi, hujan mengguyur perjalananku sampai ke Jakarta sehingga bus berjalan sangat lambat. Bus masuk Jakarta terlambat. Aku tiba di rumah sekitar pukul sepuluh, sehingga aku harus terlambat masuk kerja Senin itu. Sejatinya aku tidak akan masuk Senin itu, tetapi berhubung ada rencana rapat, meskipun siang aku tetap masuk kantor dan bergabung dengan rutinitas kantor. Baru Selasa aku mengerjakan PR-ku menyelesaikan alergi oleh-olehku dari Bali. Selain ilmu pengajaran BIPA yang kudapat, ternyata oleh-oleh menarik ini masih aku rasakan hingga Rabu ini. Ternyata enam bulan ke depan aku disarankan dokter untuk tidak mengonsumsi makanan laut, kacang tanah, durian, dan kacang mede. Makan ko dibatasi kaya orang kayaa aja he…he…
April 24, 2008 pukul 4:18 am |
Ternyata biar udah sering ke bali.. bali tetap bali ya.. slalu ada aja kenangan tersendiri yang ditinggalkan, termasuk untuk mas .. oleh2 alergi sate lilitnya yang lumayan heboh he e e dapet lumsum buat ke dokter dunk mas ha a a
Pelatihan kemarin membawa banyak kesan bw aq pribadi, apakah dikau jg begitu mas?
mulai dari minta ilmu pengalaman mengajar dari “para guru2 senior” sampai ha ha hi hi ketemu dengan seseorang yang “ternyata” sodara jauh he e e Rapi gtu deh !!!
Cuma yang kurang kayanya fasilitatornya kurang variatif .. abis cuma satu orang seh.
Koq malah curhat juga yah .. sorry mas jd ikutan curhat neh..
Pokoknya Bali is the best deh ..
April 24, 2008 pukul 4:22 am |
oh ya yang ketinggalan .. satu lagi
selama di bali knapa qta nga pernah jalan2 bareng ya mas??? he e e abis qta sibuk ma urusan masing2 seh ..
next time ke bali jalan2 rame2 ya mas ..
merci bcp monsieur hidayat, t’es vraiment gentil !!!
April 24, 2008 pukul 4:28 am |
@yoe danke schoen auf dein Kommentar!
ya bali tetep lain dech, ya kita ga sadar ya kita cuma bareng di pelatihan ma pesawat he,he… maklum sibuk keras …:D, eit bener lunsumnya buat ke dokter euy. ga apa2 yu die Gesundheit ist das Wichtigste…..:D
April 30, 2008 pukul 8:25 am |
“Ternyata enam bulan ke depan aku disarankan dokter untuk tidak mengonsumsi makanan laut, kacang tanah, durian, dan kacang mede.”
makanya jadi orang jangan pelit!! kalo makan enak itu mbok ya bagi-bagi…
Mei 2, 2008 pukul 1:41 am |
@ dewi sembarangan aje, kalo mo minta makan bilang wi, jangan nuduh yang ga salah… eit bener ya? oks dech undang aku makan n sediain makanan seperti itu, aku ga akan makan wi..aku kasih semua tuk majid
Mei 6, 2008 pukul 7:42 am |
Kalo makan pete masih boleh yat?
Mei 6, 2008 pukul 10:38 am |
@ irawan, wah makanan wajib itu, kapan kita makan-makan lagi, ditunggu undangannya, kel mana blognya?
Mei 13, 2008 pukul 2:54 am |
Yang menarik di Bali itu bunganya ada dimana-mana. Kayaknya kota Bunga mestinya disematkan untuk Denpasar deh…
Mei 13, 2008 pukul 3:24 am |
ya bunganya ada di setiap pura, jadi di mana-mana ada, kaya tajen aja di mana-mana ada