Ampun Jakarta! Itulah ungkapan yang paling cocok untuk menggambarkan segala keruwetan yang terjadi di Jakarta. Kemarin sore adalah salah satu contoh kecil kasus yang aku alami. Tentunya masih banyak kasus yang dialami oleh aku-aku yang lain yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Aku langsung teringat ungkapan yang disosialisasikan dinas pariwisata Jakarta yang tertulis di dinding bus Pemda Jakarta Ampun Jakarta!Enjoy jakarta!
Ampun Jakarta! Kemarin sore, 12 Maret 2008, adalah rekor terlama perjalananku pulang kantor Rawamangun-Joglo, hampir tiga jam dengan menggunakan sepeda motor. Aku keluar kantor kurang lebih pukul lima sore dan tiba di rumah jam dinding telah menunjukkan pukul delapan kurang seperempat. Hampir tiga jam. Biasanya jalur pulang kantor yang kulewati membutuhkan waktu kurang lebih satu jam sudah termasuk macet di perjalanan dan berhenti di lampu merah. Aku harus melewati kurang lebih 20 lampu merah pemberhentian dan satu perlintasan rel kereta api dalam jalur perjalananku pulang kantor. Jalur yang kulewati adalah jalan Rawamangun Muka-By Pass Ahmad Yani-Pramuka-Tambak-Manggarai-Sultan Agung-Margono Hadikusumo-Karet Pasar Baru Barat-Pejompongan-Arteri-Simprug-Permata Hijau-Pos Pengumben dan terakhir Jalan Raya Joglo.
Ampun Jakarta! Sebenarnya sore itu memang sangat mendung. Akan tetapi aku harus segera pulang mengingat setiap hujan yang mengguyur Jakarta akhir-akhir ini berlangsung cukup lama. Jika aku harus menunggu reda biasanya aku tiba di rumah sudah malam. Artinya aku hanya mempunyai waktu sebentar untuk makan, mandi, istirahat sebentar dan langsung tidur. Dengan mengenakan jas hujan aku keluar bersama teman dan menyegerakan pulang. Rintik-rintik hujan telah kurasakan dan aku kira hujan lebat akan segera turun. Tetapi selama perjalanan pulang sebagian jalan yang kulewati hujan telah reda dan menyisakan gerimis saja.
Ampun Jakarta! Setelah keluar Jalan Pramuka kemacetan mulai terlihat. Ternyata di Jalan Tambak mobil sudah bergerak sangat pelan. Hanya kendaraan roda dua di sebelah kiri yang terlihat masih bisa berjalan aga lancar tetapi kondisi ini tidak berlangsung lama. Memasuki Jalan Sultan Agung kendaraan roda dua pun bergerak sangat pelan dengan diselengi macet tiap berjalan lima sampai sepuluh meter. Kondisi ini aku alami sepanjang jalan mulai Sultan Agung, Margono Hadikusumo, Karet Pasar Baru Barat, Pejompongan dan puncak macet terjadi di sepanjang Jalan Arteri Senayan. Kendaraan sudah tidak bisa bergerak memasuki Jalan Arteri.
Ampun Jakarta! Aku melintasi jalur Arteri biasanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit. Waktu ini pun masih bergantung saat melintasi pemberhentian satu lampu merah. Jika aku beruntung ketika melewati pemberhentian lampu berwarna hijau aku tidak harus berhenti dan itu tidak akan membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit. Akan tetapi kemarin jarak tiga sampai empat kilo harus kutempuh 45 menit lebih.
Ampun Jakarta! Dari rekor ini semakin memperkuat anggapan bahwa Jakarta bukan semakin maju tetapi sebaliknya. Untuk itu pesan untuk Bang Foke segeralah berikan masalah ini kepada ahlinya kalau tidak ingin Jakarta menjadi lebih runyam. Ternyata sang ahli belum cukup ahli sebagai ahli di bidangnya.