“Tidak” jerit Maxi.“Tidak, saya tidak mau pulang. Saya belum memasak roti, saya belum memberi makan Si Pony, saya belum….”

“Ayo cepat!” ajak ibunya. “Hari sudah petang. Pukul tujuh kita harus makan malam. Ibu akan membuat daging panggang kesukaanmu.” Ibu menarik tangan Maxi dan membawanya dari tempat bermain.

“Saya tidak mau daging panggang” jerit Maxi. ”Saya masih mau memasak roti dan memberi makan Si Pony. Maxi meronta dan berusaha melepaskan pegangan ibunya.
“Saya belum bermain tali, Ibu. Saya belum bermain kereta-keretaan. Saya belum bermain apa-apa.”

“Payah,” kata Ibu. “Jika kamu tidak berhenti bermain, besok kamu harus bermain di rumah, tidak boleh keluar”.

”Uuu… uuu…,” Maxi menangis. “Uuu… uuu di luar masih banyak anak-anak besar dan saya tidak boleh di sana” tangis Maxi. ”Tidak boleh di ayunan, tidak boleh di tempat seluncur, tidak boleh di bak pasir uuu….,” tangis Maxi.

Ibu melepas tangan Maxi.
“Pergi sana!” ibu tidak suka anak yang suka menangis. Ibu juga tidak suka anak yang suka meronta-ronta seperti kamu.” Maxi masih menangis pelan. Maxi mengikuti ibunya di belakang. Mereka berjalan melewati taman dan menuju sebuah toko. Di toko itu ibu membeli roti, susu, telur, dan bumbu masak untuk memanggang daging. Maxi berhenti menangis.“ Ibu saya minta permen, yang merah, yang ada gagangnya”.
“Tidak,” jawab ibunya. “Anak nakal tidak boleh minta permen. Lagi pula sebelum makan malam tidak boleh makan yang manis-manis.”
“Mengapa tidak boleh?”
“Karena rasa manis itu akan menghilangkan rasa laparmu”
“Tidak Ibu, saya akan bertambah lapar jika makan permen itu” bujuk Maxi.
Ibu terdiam.
“Ibu saya tambah lapar jika makan permen itu. Jika Ibu memberi permen itu saya akan tambah lapar dan saya akan menghabiskan masakan ibu di rumah.”
“Maxi, dengar Ibu! Itu tidak benar.”
“Betul Bu, tapi mengapa kakak Wendelin, kakak Konstantin, kakak Hildegard, dan kakak Eduard boleh? Mengapa ayah juga boleh?”
Wandelin, Konstantin, Hildegard dan Eduard adalah kakak-kakak Maxi. Mereka kelihatan patuh kepada ibunya. Setelah makan malam mereka lekas menuju kamar mandi, mencuci kaki, menyikat gigi, dan selalu mengatakan selamat tidur kepada ibu dan ayahnya. Setelah itu mereka seperti langsung tidur ke tempat masing-masing. Hanya Maxi yang selalu berlambat-lambat dan tidak mau cepat tidur.
“Kerjakan!” seru Wandelin.
“Ya segera.” Maxi mengamati sekelilingnya dengan takut-takut seperti mengamati apakah ada perampok di bawah tempat tidur.
“Kerjakan Maxi!”, tambah Konstantin.
“Ya iya.” Maxi masih mengamati di sekelilingnya seperti mengamati apakah ada singa yang bersembunyi di lemari.
“Cepat selesaikan!” suruh kakak-kakaknya.
“Iya, iya.” Maxi kemudian menuju kamar mandi untuk melihat dan memastikan apakah pasta gigi telah ditutup, sabun telah diletakkan di tempat sabun, atau handuk telah tergantung di tempatnya.
“Begitu Maxi,” kata Hildegard.
“Setiap malam kamu harus begitu,” kata Eduard.
Setelah selesai mereka kemudian berteriak bersahut-sahutan dengan keras.
“Ayah, Ibu, Maxi tidak mau tidur.” Kemudian ibu menuju ke kamar tidur anak-anaknya. Dia membaringkan Maxi di tempat tidur, menyelimutinya, dan mematikan lampu. “Selamat tidur anak-anakku sayang!”

Kamar gelap.
“Selamat tidur!” ucap Wandelin.
“Selamat tidur!” jawab Konstantin.
Maxi kembali bangun dari tempat tidurnya. Dia belum yakin apakah kandang burungnya sudah terkunci. Kemudian Maxi memanjat lemari mencari gembok.
“Masih ada yang belum kamu kerjakan?” tanya Eduard.
“Oh masih banyak” kata Hildegard. “Dia masih harus melihat ikan hias. Jangan-jangan telah dimakan buaya”.
“Oh ya” jawab Maxi. Dia lekas menuju aquarium untuk melihat ikan hias.
”Oo… tidak apa-apa, hanya buaya kecil,” pikir Maxi. Kemudian Maxi menuju tempat tidurnya. Tidak lama berselang Maxi kembali ke luar kamar.
“Saya lupa boneka saya. Tanpa boneka itu saya tidak bisa tidur.”
“Apa kamu tidak perlu kuda kayumu?” tanya Hildegard.
“Atau kotak rumah-rumahanmu?” tanya Eduard.
“Toko-tokoan atau sepedamu?”
“Tidak, terima kasih. Saya hanya butuh boneka.” Maxi kembali ke tempat tidurnya.
“Selamat tidur!” ucap Maxi kepada kakak-kakaknya.
“Selamat tidur!” jawab kakak-kakaknya.

Tidak lama waktu berselang Maxi kembali bangun dari tempat tidurnya.
“Apa ya? Apa ada yang masih terlupa?” gumam Maxi.
“Ayo apa lagi?” tanya Konstantin.
“Jangan diam!” sahut Wendelin.
Sambil mengendap-endap ketakutan, dia melewati kamar dan mengamati dirinya apakah dia telah bertambah tinggi. Brakkk…! Kepalanya terbentur meja. Kejadian itu membangunkan kakak dan ibunya. Kemudian ibunya menuju ke kamar tidur anak-anaknya dan menghidupkan lampu.
“Ada apa ini? Kenapa kamu tidak tidur, Maxi?”
Maxi berdiri di pinggir kusen pintu untuk memperlihatkan tinggi badannya dibandingkan dengan garis-garis di kusen kayu. Maxi menjinjitkan kakinya dan berusaha memanjangkan badannya supaya badannya terlihat tinggi.
“Maxi orang bisa tumbuh menjadi tinggi dan besar karena dia tidur. Jika kamu tidak tidur kamu akan tetap kecil seperti saat ini.”
Maxi kembali ke tempat tidurnya. “Ya sekarang saya harus tidur, Ibu”
“Tidurlah nak” kata ibu. Kemudian ibu itu menghampiri dan menciumi semua anaknya sebelum meninggalkan kamar mereka.

Diterjemahkan dari Maxi will nicht schlafen gehen tulisan Mira Lobe, diambil dari Die Lustige Geschichtenkiste gefühlt von Erich Kästner, Cecilie Dressler Verlag, Hamburg, © Atrium Verlag, Zürich 1986.